Pages

Tampilkan postingan dengan label Materi Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Otomotif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Agustus 2011

E M I S I

E M I S I

Apakah emisi itu?
Bagaimana emisi bisa terjadi?
Apakah emisi bisa dikurangi?
Mengapa harus uji emisi?
Apa itu standar emisi EURO?
Bagaimana supaya lulus emisi?
Bagaimana katalisator bekerja? 

=======
Photo: vivanews.com




Analisa Emisi Mesin Bensin

Oleh: Junisra Syam / Excellence Automotive Training International / Email ; junisra@cbn.net.id

Ingat!

Gas buang terdiri dari zat zat yang beracun/berbahaya untuk kesehatan.
Aturlah ventilasi udara sebaik-baiknya sewaktu mesin dihidupkan dalam bengkel.
Buka pintu dan jendela, atau pindahkan kendaraan ke luar.
Mekanik/Teknisi Profesional akan memeriksa gas buang dengan cepat dan akurat.

Perbandingan Campuran Udara Bensin (Lambda)

Pemakaian bahan bakar pada mesin bensin sangat tergantung dari perbandingan campuran bahan bakar dan udara, konsumsi bensin akan lebih rendah bila perbandingan campuran dengan udara sekitar 1 : 15, hal ini berarti 1 kg bensin dicampur dengan 15 kg udara.
Angka perbandingan tersebut dapat kita hitung sama dengan 11500 liter udara bercampur dengan 1 liter bensin.

Secara tepat perbandingan campuran bensin dan udara yang ideal untuk proses pembakaran pada mesin adalah; 1 : 14,7

Perbandingan campuran tersebut tidak bisa diterapkan terus menerus pada setiap keadaan operasional, contohnya; saat putaran idel dan beban penuh kendaraan mengkonsumsi campuran udara bensin yang gemuk, sedangkan dalam keadaan lain pemakaian campuran udara bensin bisa mendekati yang ideal.

Perbandingan campuran bensin dan udara yang ideal (campuran bensin udara untuk pembakaran dengan tingkat polusi yang paling rendah) adalah 1 : 14,7 atau dalam ukuran liter dapat disebutkan 1 liter bensin secara ideal harus bercampur dengan 11500 liter udara.

Simbol perbandingan udara yang masuk ke silinder mesin dengan jumlah udara menurut teori dinyatakan dengan = Lambda

Lambda=1
Jumlah udara masuk ke dalam silinder mesin sama dengan jumlah syarat udara dalam teori.

Lambda Kecil Dari 1
Jumlah udara yang masuk lebih kecil dari jumlah syarat udara dalam teori, pada situasi ini mesin kekurangan udara, campuran gemuk, dalam batas tertentu dapat meningkatkan daya mesin.

Lambda Besar Dari 1
Jumlah udara yang masuk lebih banyak dari syarat udara secara teoritis, saat ini mesin kelebihan udara, campuran kurus, daya kurang.

Lambda Besar Dari 1,2
Dalam situasi seperti ini campuran bensin udara sangat kurus sehingga pembakaran berkemungkinan tidak dapat terjadi pada tempat dan tidak merata dala silinder mesin

Semua sistem induksi bahan bakar; karburator maupun sistem injeksi bertujuan untuk membuat campuran bensin dan udara agar bisa terbakar dalam ruang silinder mesin.

Pada mesin bensin yang memakai karburator, percampuran bensin dan udara masih bersifat alami yaitu bensin dapat bercampur dengan udara karena diisap. Kelemahan yang terjadi adalah karena berat jenis bensin tidak sama dengan udara, maka berbandingan campuran yang ideal akan sulit tercapai. Untuk memperbaiki kekurangan karburator, saat ini diterapkan sistem injeksi bensin, perbandingan bensin yang diberikan seoptimal mungkin disesuaikan dengan udara yang diisap oleh mesin, sehingga effisiensi pemakaian bahan bakar dapat lebih ditingkatkan dan polusi gas buang lebih rendah.

Perbandingan campuran yang sesuai dapat diraih dengan mengukur secara tepat jumlah udara yang masuk ke dalam silinder pada setiap tingkat kerja; suhu, putaran, beban serta faktor-faktor lain, perbandingan campuran bensin dengan udara selalu diusahakan mendekati kerja mesin yang optimal, dan hasil gas buang yang relatif bersih. Campuran bensin udara sistem injeksi juga lebih homogen pada setiap silindernya karena masing-masing saluran masuk memiliki injektor untuk menyemprotkan bahan bakar.
Saluran masuk dapat dibuat sama panjang dan lebih besar, bahkan saluran masuk saat ini juga bisa bersifat variabel (variable intake manifold); dapat memanjang dan memendek sesuai dengan putaran dan beban mesin dengan demikian tingkat effisiensi volume silinder dapat ditingkatkan dan pada akhirnya torsi maksimum juga dapat dipertinggi serta lebih merata pada setiap putarannya.

Kebanyakan teknisi otomotif masih menganggap 4 Gas Analyser sebagai tester, yang hanya digunakan pada saat melakukan pengetesan gas buang setelah pekerjaan servis, untuk memenuhi standar persyaratan emisi yang ditentukan oleh pemerintah (uji emisi). Sesuai dengan namanya yaitu; 4 Gas Analyzer, maka selayaknya perlengkapan tersebut dioptimalkan penggunaannya, sehingga dapat dipakai sebagai alat bantu diagnosa yang diperlukan setiap saat, guna menginterpretasikan keadaan mesin, dikombinasikan dengan pemakaian scan tools dan multitester, serta alat yang lain.

Perbandingan campuran bensin dan udara mengalir ke dalam silinder mesin pada saat langkah isap, maka diperlukan persyaratan tertentu pada langkah isap, agar perbandingan campuran yang ideal didapatkan.
Meskipun perbandingan campuran bensin dan udara saat ini sudah ditakar secara elektronis oleh ECU, namun faktor mekanisme mesin masih sangat dominan mempengaruhinya, sehingga emisi yang dihasilkan mesin perlu dianalisa untuk diagnosa, sebelum membuat keputusan pekerjaan selanjutnya.

Kualitas dari poses pembakaran campuran udara bensin adalah sangat penting, meskipun nilai perbandingan campurannya sudah ideal (misalnya lambda = 1), akan tetapi waktu mulainya saat pembakaran, atau besarnya Cetusan bunga api pada busi sangat mempengaruhi efisiensi thermis yang dihasilkan mesin sekaligus mempengaruhi emisi. Saat pengapian harus diatur secara tepat dan selalu berbeda dari setiap kondisi operasional mesin dan tergantung dari; suhu air pendingin, putaran dan beban mesin, jenis bahan bakar yang dipakai, detonasi serta kadar oksigen yang terkandung dalam gas buang dll.

Sistem pengapian konvensional, pengontrolan saat pengapian hanya berdasarkan putaran dan beban mesin saja, sedangkan mesin-mesin yang menerapkan engine management memungkinkan mengontrol saat pengapian berdasarkan banyak parameter, dengan demikian akan diperoleh perbandingan campuran udara bensin yang ideal, tekanan pembakaran yang optimal, pemakaian bahan bakar yang lebih irit, serta emisi/gas buang yang berwawasan lingkungan.
Disamping beberapa faktor di atas yang berpengaruh terhadap emisi/gas buang, daya/kekuatan pengapian juga sisi lain yang dapat mempengaruhi kualitas pembakaran, oleh karena itu busi sebagai komponen sistem pengapian harus mempunyai syarat-syarat tertentu seperti;

Besar celah elektroda busi harus diukur sedemikian rupa, agar dapat mengaktifkan pembakaran dalam volume yang besar serta bervariasi, celah elektroda yang lebih besar akan dapat mereduksi HC, akan tetapi celah yang terlalu besar bisa menyebabkan
kemampuan pengapian jadi menurun. Busi harus ditempatkan sedemikaian rupa agar dapat membakar dengan mudah campuran
udara bensin. Konstruksi busi juga harus dapat mengalirkan panas yang berlebihan akibat proses pembakaran.

Pengaruh Saat Pengapian Terhadap Emisi.

Emisi HC dan CO
Saat pengapian harus ditetapkan secara kompromis antara daya mesin yang diharapkan dengan kadar emisi yang berwawasan lingkungan, terutama pada HC dan CO.
Perbandingan campuran udara bensin yang ideal adalah salah satu langkah untuk mereduksi kadar HC dan CO dalam emisi, disamping mengatur saat pengapian yang sesuai dengan segala kondisi operasional mesin.
Pengajuan pengapian yang berlebihan dapat menyebabkan kadar HC dan CO dalam gas buang akan meningkat, oleh karena itu pengajuan pengapian berdasarkan engine management akan lebih sesuai untuk mereduksi HC dan CO.

Emisi NOx
Emisi ini sangat tergantung dari perbandingan campuran udara bensin dan suhu ruang bakar. Pada perbandingan campuran dengan lambda = 0.99 sampai 1 akan terjadi kadar NOx yang maksimum dalam gas buang, karena NOx timbul akibat suhu ruang bakar yang semakin panas, oleh sebab itu pengajuan pengapian yang kompromis sangat diperlukan agar kadar NOx tidak berlebihan dalam gas buang.
Setelah campuran bensin-udara dibakar oleh loncatan bunga api pada busi, maka diperlukan waktu tertentu bagi api untuk merambat ke seluruh ruang bakar, oleh sebab itu akan terjadi sedikit kelambatan antara awal pembakaran (busi memercikkan bunga api) dengan pencapaian tekanan pembakaran maksimum.
Agar diperoleh daya maksimum pada mesin maka diusahakan tekanan pembakaran mencapai maksimum dalam ruang bakar terjadi sekitar 10 derajat setelah TMA, maka tenggang waktu rambat api mulai dari busi melompatkan bunga api sampai tekanan pembakaran maksimum tercapai, haruslah diperhitungkan dengan cara menentukan/menyetel saat pengapian yang tepat

Untuk mendapatkan daya mesin semaksimal mungkin, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka tekanan pembakaran maksimum harus tercapai sekitar 10 derajat setelah TMA, karena dibutuhkan waktu untuk perambatan api, maka campuran bensin-udara harus sudah dibakar sebelum TMA.
Karena kondisi operasional mesin yang selalu berubah-ubah, maka diperlukan beberapa komponen untuk memajukan atau memundurkan saat pengapian,...

(bersambung ... tunggu posting berikutnya)


=======


SEJARAH REGULASI EMISI 
Oleh Junisra Syam
Excellence Automotive Training International

Untuk kesekian kalinya saya menulis pada kolom discussed tentang emisi, hal ini dimaksudkan tentu saja bukan bertujuan agar para sahabat/pembaca bosan dengan berbagai tulisan tentang emisi.

Seperti yang diketahui bahwa lebih dari 50 tahun lamanya para konstruktor mesin selalu berusaha dan berusaha untuk melakukan perbaikan-inovasi pada mesin hanya dengan satu tujuan utama yaitu menciptakan mesin dengan tingkat pemakain bahan bakar yang lebih efektiif dan EMISI yang lebih berwawasan lingkungan.

Usaha yang mereka lakukan seakan tidak kenal lelah dan tidak akan pernah berhenti, apalagi selama belasan tahun terakhir, seiring dengan semakin tingginya kesadaran dan tututan masyarakat terhadap lingkungan hidup. Dan satu masalah besar sedang dihadapi dunia adalah suatu kenyataan bahwa persediaan minyak bumi sudah semakin menipis sementara pertumbuhan dan kebutuhan terhadap kendaraan bermotor semakin meningkat.

Kalau Anda membaca secara cermat tulisan yang saya rangkum dari berbagai sumber informasi ini, maka setidaknya Anda mendapatkan informasi sekilas bagaimana perjalanan panjang tentang pengontrolan emisi kendaraan bermotor yang sudah dilakukan lebih dari 50 tahun lalu, dan tentu saja usaha ini tidak akan pernah berakhir sampai akhir jaman…

ATURAN EMISI STANDAR AMERIKA
Sepanjang tahun 1950 sampai 1960-an, komisi pemerintah daerah dari negara-negara bagian di AS melakukan penelitian pada berbagai sumber pencemaran udara. Studi ini akhirnya berkesimpulan bahwa sebagian besar pencemaran udara disebabkan oleh gas buang kendaraan bermotor/mobil,
Komisi ini juga menyimpulkan bahwa pembatasa emisi tidak bisa dilakukan dari negara bagian atau setempat saja (waktu itu aturan emisi telah di hasilkan oleh beberapa negara bagian dan kota saja melalui peraturan daerah setempat), lalu
peraturan daerah yang tidak efektif secara bertahap segara digantikan oleh Peraturan Negara yang lebih konprehensif.

Pada 1967 negara bagian California mendirikan California Air Resources Board (CARB), lalu pada 1970 US Environmental Protection Agency (EPA) juga terbentuk. Kedua lembaga tersebut sampai sekarang sangat berkompeten membuat dan menegakkan aturan emisi untuk mobil serta sumber pencemar lingkungan lainnya. Melalui lembaga serupa segala aturan tentang emisi dikembangkan dan diimplementasikan juga di Eropa, Australia, dan Jepang serta negara lain.

Upaya pertama untuk pengendalian pencemaran lingkungan oleh gas buang mesin mobil adalah sistem PCV (positive crank ventilation ).
Sistem ini menghisap kembali kebocoran HC dari celah piston dan dinding silinder yang tertampung dalam carter mesin, lalu hidrokarbon ini dikembalikan ke intake manifold melalui PCV karena HC tidak boleh dibuang ke udara terbuka.

PCV pertama kali diaplikasikan secara luas pada mesin mobil baru yang dijual di California tahun 1961 dan pada tahun 1964 PCV menjadi peralatan standar pengontrol emisi HC untuk semua kendaraan di seluruh dunia.

Pada tahun 1966 untuk pertama kalinya mobil baru yang dijual di California harus mengikuti aturan Negara Bagian tersebut dan tahun 1968 aturan itu semakin diperketat sesuai dengan amanat EPA.

Pada tahun 1974 keluarlah aturan standar emisi yang lebih ketat, sehingga diperlukan teknik service/tune up yang lebih baik secara berkala agar memenuhi standard emisi yang baku. Lalu pada tahun 1975 diumumkan pemakaian catalytic converter guna mereduksi kandungan emisi berbahaya pada gas buang, dan catalytic converter hanya bisa dipakai bila mesin menggunakan bensin tanpa timbel

Tahun 1972, General Motors mengusulkan pada American Petroleum Institute (API) untuk menghapuskan bahan bakar bertimbal, lalu diringi pada tahun 1975 GM pertamakali memproduksi mesin mobil menggunakan catalytic converter tentu saja harus menggunakan bensin bebas timbal (timah hitam)
Akhirnya seperti yang kita jumpai bahwa semua mobil modern hari ini dilengkapi dengan catalytic converter serta bensin tanpa timbal dapat kita temukan di mana-mana.

Lembaga Pengawas Emisi di Amerika
Lembaga yang berkompeten/bertugas mengatur tentang emisi/gas buang di Amerika bervariasi meskipun dalam negara yang sama, sebagai contoh di Amerika Serikat; penanggung jawab secara keseluruhan adalah EPA, tetapi karena persyaratan khusus dari Negara Bagian California, maka emisi di California diatur oleh suatu badan yaitu California Air Resources Board (CARB), sedangkan di Texas ada suatu badan lagi yang berkompeten seperti Texas Railroad Commission. komisi ini bertanggung jawab mengatur dan mengawasi emisi dari kendaraan berbahan bakar LPG saja dan tidak untuk kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.
Adapun lembaga-lembaga yang berkompeten dalam membuat aturan dan mengawasi emisi kendaraan di Amerika antara lain;

• California Air Resources Board - California, United States
• Environment Canada - Canada
• Environmental Protection Agency - United States
• Texas Railroad Commission - Texas, United States (LPG-fueled engines only)
• Transport Canada - Canada (trains and ships)

Efisiensi mesin terus ditingkatkan dengan desain mesin lebih baik dan semakin bagus dari waktu ke waktu.. Saat pengapian diatur lebih tepat dengan sistem pengapian elektronis. Bahan bakar diukur dan ditakar secara akurat agar perbandingan campuran udara-bensin menjadi ideal. Sistem manjemen mesin selalu dikembangkan setiap saat.dan seterusnya..dst..

Segala macam usaha itu bertujuan untuk mengurangi racun berbahaya yang keluar dari pipa knalpot mesin Anda, namum segalanya itu belumlah cukup, karena semakin lama jumlah kendaraan semakin meningkat dan akhirnya semakin banyak racun emisi yang bertebaran di jalanan…

ATURAN EMISI STANDARD EROPA
Standar Emisi Eropa secara umum ditetapkan untuk kendaraan baru yang dijual di negara anggota Uni Eropa. Standar Emisi Euro ditentukan melalui serangkaian kesepakatan dari Negara Uni Eropa yang mempunyai ambang batas emisi tersendiri.
Saat ini, emisi Oksid Nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), Karbon monoksida (CO) dan materi partikulat (PM) pada mobil, truk, kereta api, traktor dan mesin sejenis, diatur ambang batas emisinya menurut standard Euro, tetapi aturan itu tidak termasuk mesin kapal laut dan pesawat terbang.

Tentu saja setiap tipe dan jenis kendaraan regulasi ambang batas emisinya berbeda, dan cara pengujiannya dilakukan pada tempat dan cara test yang baku pula, jika kendaraan tidak lulus uji emisi menurut standard Euro maka kendaraan itu TIDAK boleh diperjual-belikan di Negara Eropa.

Namun demikian standard Euro tidak diberlakukan untuk kendaraan lama (dengan standard emisi lama) tapi masih beredar di jalanan, pemerintah hanya mengawasi saja perawatan kendaraan lama, sampai kendaraan itu tidak dipakai lagi atau tidak boleh dijalankan jika tidak memenuhi syarat ambang batas emisi lama yang diaplikasikan pada kendaraan itu.
Sedangkan kendaraan model baru harus memenuhi standar yang berlaku dan harus memenuhi standard Euro yang terakhir.

Pada awal tahun 2000-an, Australia mulai mengelurkan regulasi “Australian Design Rule Certification for New Motor Vehicle Emissions with Euro Categories” yaitu; Sertifikasi aturan desain untuk emisi kendaraan bermotor baru dengan klasifikasi Euro, lalu selanjutnya 1 Januari 2006 diperkenalkan di Australia ambang baku emisi Euro III untuk menyesuaikan dengan regulasi ambang baku emsi yang telah diberlakukan di Eropa

Di Uni Eropa telah diteliti bahwa sarana transportasi jalan raya adalah pemberi sekitar 20% dari seluruh emisi CO2 dan kategori mobil penumpang memberikan kontribusi sekitar 12%.
Sedangkan target yang ditetapkan oleh Protokol Kyoto adalah pengurangan 8% dari emisi di semua sektor dibandingkan dengan tahun 1990. Dan target tersebut harus dicapai dari tahun 2008 sampai 2012.

Emisi CO2 sarana transportasi jalan telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, dari total 21% pada tahun 1990 menjadi 28% pada tahun 2004, namun hal ini disebabkan pada tahun-tahun segitu belum ditetapkannya batas standar emisi CO2 dari kendaraan. Dan saat ini menurut penelitian; bahwa emisi CO2 yang dihasilkan oleh sarana transportasi darat Uni Eropa mencapai sekitar 3,5% dari total emisi CO2 secara global.

Wajib Pelabelan
Pada tahun 1999 negara Eropa sudah menyarankan pada produsen kendaraan baru agar mencantumkan label informasi tentang “ekonomis bahan bakar” dan CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan, agar konsumen tahu/faham mengenai effisiensi penggunaan bahan bakar suatu mobil dan CO2 yang dikeluarkan oleh mesin kendaraan itu. Hanya saja di Inggris, pelabelan informasi ini dianggap tidak efektif.

Cara penyajian informasin tentang CO2 dan “ekonomis-nya” suatu mesin kendaraan itu terlalu rumit dan sulit difahami oleh calon pembeli (harap maklum tidak semua calon pemilik mobil paham terhadap teknologi otomotif).
Oleh karena itu produsen mobil di Inggris lebih suka menuliskan pada label informasinya seperti “consumer-friendly,” atau kode warna/klasifikasi A sampai F untuk CO2 yang dihasilkan kendaraan, dan ini baru diterapkan mulai September 2005, misalnya klasifikasi A jika kendaraan memprodukis CO2 <100 g/km dan klasifikasi F untuk kendaraan dengan mesin yang memproduksi CO2 besar dari 186g/km.

Label informasi seperti ini cukup difahami oleh calon pembeli yaitu dari klasifikasi A (irit)…B….dan seterusnya sampai F (lebih boros BBM). Lalu negara anggota Uni Eropa lainnya juga dalam proses memperkenalkan label informasi pada konsumen tersebut

Belum ada batas emisi CO2 kendaraan.
Emisi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan saat ini masih belum ada batasan yang baku di Eropa, tetapi hanya disepakati/perjanjian secara sukarela saja.

Dalam hal ini berbeda dengan batas CO2 yang diwajiban oleh undang-undang AS,
tentu saja sebagai teknisi otomotif kita paham bahwa AS menetapkan batas CO2 pada kendaraannya karena pada umumnya selama ini kendaraan yang diproduksi di AS cenderung ber-CC besar, dengan adanya pembatasan CO2 oleh regulasi AS maka produsen mobil di sana akan cenderung memperkecil CC mesinnya untuk menghemat BBM dan mereduksi CO2.

Target utama Uni Eropa dengan perjanjian sukarela adalah untuk memberikan kontribusi produsen mobil dalam mencapai emisi CO2 rata-rata (diukur menurut komisi petunjuk 93/116/EC) yaitu 120 g/km untuk semua mobil penumpang baru pada tahun 2012 .
Namun demikian semakin jelas bahwa perjanjian suka rela tersebut belum/tidak memberikan hasil yang bagus karena baru mencapai 160 g / km pada tahun 2005, dari (186 g / km pada tahun 1995) dan akhirnya anggota parlemen Uni Eropa sudah mulai mempertimbangkan peraturan pembatasan CO2 seperti di AS.

Pada akhir tahun 2005, Parlemen Eropa mengeluarkan sebuah resolusi mendukung wajib standar emisi CO2 untuk menggantikan komitmen/perjanjian sukarela oleh produsen mobil.
Pada akhir 2006, sebagai tanggapan berbagai laporan dari Federasi Eropa untuk Transportasi dan Lingkungan yang mendokumentasikan kurangnya kemajuan dari target perjanjian sukarela antara produsen mobil dalam mengurangi CO2, lalu komisi Uni Eropa yang menangani tentang regulasi emisi mengumumkan bahwa mereka sedang mengerjakan proposal untuk membatasi emisi CO2 kendaraan bermotor .
Dan akhirnya pada tanggal 7 Februari 2007, Komisi itu menerbitkan RUU untuk membatasi emisi CO2 rata-rata dari mobil yaitu 120 g CO2/km.

Beberapa produsen mobil yang memproduksi mesin mobil ber-CC kecil seperti Fiat, Renault dan Peugeot-Citroen sudah hampir mendekati target pembatasan CO2 itu, akan tetapai produsen mobil yang memprodusksi mesin mobil dengan CC besar seperti BMW, Mercedes, Audi, dan Porsche serta Saab masih jauh dari pencapaian target ini. Maka tidak mengherankan produsen Prancis dan Italia ingin target tersebut segera diterapkan, tetapi produsen mobil Jerman merasa target itu akan menghancurkan industri mobil mereka.

Para pencinta lingkungan hidup menginginkan pencapaian target dalam jangka panjang, mereka menginginkan target CO2 sebasar 80 g / km pada tahun 2020.
Meraka mengatakan bahwa emisi mobil baru dari produsen Eropa melampai batas 160 gram per kilometer (g/km) pada tahun 2007 hanya berkurang 0,2 persen dari tahun 2006 dan hanya berkurang setelah kesepakatan/perjanjian suka rela yaitu 140 g / km pada tahun 2008.

Tahapan regulasi Emisi Euro telah melalui step seperti di bawah ini;

Euro 1 (1993) Untuk mobil penumpang dan truk ringan.
Euro 2 (1996) Untuk mobil penumpang dan sepeda motor
Euro 3 (2000) Untuk semua kendaraan dan sepeda motor
Euro 4 (2005) Untuk semua kendaraan
Euro 5 (2008) dan Euro 6 (2014) Untuk kendaraan penumpang dan kendaraan komersial ringan.

Demikianlah uraian ringkas tentang SEJARAH REGULASI EMISI yang sudah berkutat selama lebih dari 50 tahun terakhir tanpa henti.

Tentu saja kita sebagi teknisi ataupun yang berkecimpung dalam teknologi otomotif wajib mengetahuinya, karena apapun yang telah dilakukan seperti perbaikan , inovasi, sistem baru yang diterapkan pada mesin, selalu tidak bisa dilepaskan dari perbaikan kualitas gas buang mesin itu sendiri.

Teknologi ada di hadapan mata,,,,,tentu saja kita harus tahu mengapa dan kenapa teknologi yang inovatif selalu muncul setiap saat…

Mode Operasi ECU/ECM

Mode Operasi ECU/ECM
Mode-mode operasi mesin yang dikontrol oleh ECU adalah:
1.         Mode Start
2.         Saat banjir bensin
3.         Waktu jalan
4.         Akselerasi
5.         Deselerasi
6.         Pemutus aliran bensin
7.         Pemutus bensin secara selektif
8.         Mode Backup
9.         Koreksi Tegangan Baterai

Mode Start
Ketika kunci kontak pertama kali ke posisi “ON”, ECU mensuplai tegangan 12 volt ke relai pompa bensin selama 2 detik dengan cara memassakan arus pengendali relai, akibatnya pompa bensin dapat membangun tekanan dalam sistem bahan bakar, kalau mesin tidak perputar, tidak akan ada pembangkitan tegangan referensi oleh ECU, rangkaian pengendali relai pompa bensin tidak dimassakan untuk mematikan / off- kan pompa.   Sebelum mesin berputar saat kunci kontak on, ECU menerima sinyal untuk pembacaan-pembacaan data seperti; temperatur air pendingin, temperatur udara masuk, tekanan atmosfer (MAP/BARO) atau massa udara dari MAF Sensor dan posisi katup gas untuk menentukan perbandingan campuran udara bensin yang pertama.   
Selama mesin berputar waktu start, ECU mengirim pulsa ke injektor berdasarkan pulsa referensi rpm, bila temperatur air pendingin rendah, lebar pulsa injektor diperpanjang dan terjadilah pengayaan perbandingan campuran udara-bensin. Jika temparatur air pendingin naik, lebar pulsa menjadi lebih pendek dan perbandingan campuran udara-bensin menjadi lebih kurus. Pada waktu start perbandingan udara-bensin ditentukan oleh ECU berkisar dari 1.5:1 pada 36 derajat C (-38F) sampai 14.7:1 pada 94 derajat C (202F) Catatan: Mode start normal injektor menyemprotkan bensin mengikuti prosedur di atas selama katup gas menutup penuh. Jika trotel dibuka, biarpun kecil, perbandingan campuran udara-bensin akan berubah.  


Mode Pembersih Saat Banjir Bensin 
Jika mesin banjir bensin, pengemudi dapat menekan pedal gas sebesar 80% atau lebih besar untuk mengaktifkan Mode Pembersih Saat Banjir, agar lebih mudah meyakinkan bahwa katup gas telah dibuka 80% untuk mengaktifkan mode ini maka dapat dilakukan dengan menekan pedal gas secara penuh ke lantai (katup gas akan terbuka penuh ) Pada waktu katup gas terbuka penuh dan putaran mesin dibawah 600 rpm (saat start) maka ECU memberikan pulsa injektor dengan perbandingan campuran udara-bensin 20:1. bahkan memungkinkan pula beberapa saat injektor akan menghentikan penyemprotan secara total/ECU mematikan pulsa-pulsa injektor.   

Run Mode ( Mode Jalan ) 
Mode Jalan mempunyai 2 kondisi: Loop Terbuka (open loop) dan Loop Tertutup (closed loop). 

Open Loop (Loop Terbuka) 
Ketika mesin dihidupkan/distart pertama kali, sistem adalah dalam loop terbuka, ECU tidak menggunakan sinyal oksigen sensor, sebagai pengganti ECU menghitung rasio campuran udara- bensin dari sensor-sensor TP, ECT, MAP/MAF, IAT dan CKP. Sistem akan berjalan dalam loop terbuka sampai kondisi-kondisi berikut ditemui: 
Tegangan keluar oksigen sensor bervariasi, suhu mesin sudah mencapai temperatur kerja dan oksigen sensor telah mengirimkan sinyal secara akurat ke ECU 
Sensor air pendingin mesin telah mengirimkan sinyalnya ke ECU dan suhu kerja mesin telah tercapai 
Lamanya waktu setelah start sudah tercapai, besaran waktu ini telah disimpan dalam data software memeori ECU sedemikian rupa dan disesuaikan dengan keadaan operasional mesin saat itu.   


Closed Loop (Loop Tertutup) 
Ketika sinyal O2 Sensor, sensor temperatur air pendingin (ECT) dan kondisi-kondisi operasional mesin sudah bekerja sesuai dengan data pada software closed loop, maka ECU berubah ke loop tertutup. Loop tertutup berarti ECU memeriksa dan memperbaiki rasio campuran udara-bensin berdasarkan perubahan sinyal tegangan dari O2 Sensor (Oksigen sensor). Bila sinyal O2 Sensor di bawah 450 mV, ECU akan menaikkan lebar pulsa injektor untuk memperkaya pernadingan campuran udara-bensin, ketika tegangan sinyal O2 Sensor naik di atas 450 mV, ECU mengurangi lebar pulsa injektor membuat perbandingan campuran lebih kurus. 
Pada loop tertutup sensor yang lain tetap bekerja sebagaimana mestinya untuk memberikan input pada ECU.   Dengan kekonstanan pengindraan oksigen yang terkandung dalam gas buang, ECU dapat mempertahankan perbandingan campuran udara-bensin mendekati rasio ideal 14.7:1 (stokiometrik), agar katalitik konverter dapat bekerja secara effisien.   

Semi-Loop Tertutup 
Guna meningkatkan penghematan bensin, dalam beberapa tipe ECU, sub-mode loop tertutup diprogramkan. Sub-mode ini disebut semi-loop tertutup, terjadi selama pengendaraan di jalan raya kecepatan tinggi dan beban mesin ringan. ECU mengatur bensin lebih kurus dari 14.7:1   Converter Protection Mode (Mode Perlindungan Katalitik Konverter) ECU memonitor secara konstan operasional mesin melalui input-input seperti oksigen sensor, dan kondisi-kondisi perkiraaan yang dapat menyebabkan katalitik konverter mencapai temperatur yang berkelebihan. Jika ECU menemukan bahwa kondisi panas lanjut konverter terjadi, sistem kembali ke loop terbuka, dan memperkaya campuran bensin yang dapat mendinginkan konverter.  

Acceleration Enrichment Mode
( Mode Akselerasi Percepatan ) 
Ketika katup gas dibuka dengan cepat atau akselerasi, pembukaan katup gas ini akan menyebabkan penambahan secara simultan tekanan dalam manifold absolute pressure (MAP) atau massa udara (MAF) dan juga terjadi perubahan yang cepat pada sudut katup gas. Penyemprotan bensin harus ditingkatkan untuk mengimbangi udara yang berlebih juga untuk respon perubahan tiba-tiba sinyal TP dan MAP/MAF, lalu ECU mengatur pulsa injektor yang lebih panjang agar campuran tidak menjadi kurus.   

Decceleration Enleanment Mode 
( Mode Pengurangan Kecepatan ) 
Ketika mesin menurunkan kecepatan, campuran udara-bensin yang lebih kurus dibutuhkan guna mengurangi emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO). ECU menerika data pengurangan tekanan atau massa udara dari MAP/MAF Sensor dan pengurangan posisi sudut katup gas (TP sensor) untuk menghitung dan pengurangan /penurunan dalam lebar pulsa injektor. Pengurangan kecepatan mungkin sebagian atau secara penuh atau pengemudi mungkin tiba-tiba mengembalikan katup gas pada posisi akselerasi atau posisi idel ECU akan dapat menyesuaikan dengan tepat waktu dari segala operasional tersebut. Apabila pengurangan kecepatan sampai katup gas pada posisi tertutup, ECU menyensor/mengindera bahwa pengemudi bermaksud ke mesin kembali ke putaran idel, penyemprotan bensin mungkin diputus sama sekali (pengurangan kecepatan dengan pemutusan injeksi) jika mendekati putaran idel kembali penyemprotan bensin dilakukan lagi agar putaran idel dapat dipertahankan   

Fuel Cut-Off Mode ( Mode Pemutusan Bensin ) 
Salah satu tujuan pemutusan bensin adalah untuk menghentikan penyemprotan bensin dari mesin selama kondisi-kondisi pengurangan kecepatan, misalnya ketika pengemudi melepas pedal gas dan kecepatan kendaraan masih relatif tinggi, maka ECU akan memutuskan penyemprotan bensin, misalnya saat menutun, atau jalan datar tapi pengemudi tiba-tiba tidak menekan pedal gas.. ECU mungkin juga diprogram untuk memutuskan aliran bensin untuk alasan keamanan ketika mesin belum mencapai putaran maksimum (speed limiter), nilai putaran maksimum ini berbeda pada setiap mesin kendaraan. Pemutusan bensin juga terjadi ketika pengapian dimatikan “OFF”, tanpa pulsa-pulsa referensi pengapian dari CKP Sensor, ECU tidak mengaktifkan injektor dan tidak ada bensin yang disemprotkan untuk mencegah dieseling atau run-on.   

Selective Fuel Cut-Off ( Pemutusan Bensin Selektif ) 
Adakalanya pemutusan bensin selektif digunakan dalam beberapa penerapan untuk pengaturan torsi mesin dan perlindungan mesin dari kerusakan. Dalam penerapan ini ECU dapat mematikan injektor apabila terjadi kondisi-kondisi seperti di bawah ini; Torque management enabled (pengaturan torsi); digunakan untuk mengurangi torsi selama transmisi berganti kecepatan. Traction Control Enabled (kontrol traksi); terjadi untuk mengurangi torsi saat pengereman. High Coolant Condition (kondisi sistem pendingin kurang sempurna) – melindungi mesin over heating, jika tidak ada bensin diinjeksikan ke silinder-silinder tertentu, sedikit panas dibangkitkan akan dapat mengurangi temperatur air pendingin. 

Backup Mode 
Dalam mode ini ECU bekerja melalui kalibrasi data internal yang memungkinkan ECU untuk menjalankan mesin dengan hanya melalui input-input rpm, posisi katup gas dan temperatur air pendingin untuk merubah penghitungan penyemprotan bensin. Peristiwa ini hanya terjadi saat ECU tidak dapat menerima secara normal masukan data dari sensor yang lain, meskipun demikian mesin masih dapat hidup meskipun engine check lamp ( MIL) menyala.   

Mode Koreksi Tegangan Baterai 
ECU yang cerdas juga dapat bekerja dan menyesuaikan diri dengan tegangan baterai hal ini diesebut dengan Mode Koreksi Tegangan Baterai, ECU akan mengoreksi kerja untuk mengimbangi variasi-variasi tegangan baterai ke pompa bensin dan injektor, ECU mengubah lebar pulsa pembukaan injektor guna mengkoreksi tegangan yang bervariasi pada baterai. Ketika tegangan baterai turun, pompa bensin melambat dan volume bensin turun. untuk mengimbanginya, ECU menambah lebar pulsa injektor. Mode koreksi tegangan baterai ini selalu bekerja dengan akurat pada setiap kondisi operasional mesin. ECU juga melakukan mode ini saat tegangan baterai rendah waktu putaran idel atau mesin distart, ECU juga mengatur arus primer dengan penambahan waktu sudut dwell, agar kemampuan percikan bunga api pada busi tetap stabil meskipun tegangan baterai berubah.

Semoga Bermanfaat..!!!
By:Junisra Syam
=====


Memahami Kerja ECM/ECU

Oleh Junisra Syam
Excellence Automotive Training International

Sebuah mobil setidaknya memiliki satu komputer/Engine Control Module (ECM), namun sebagian besar kendaraan modern hari ini memiliki lebih dari module pengontrol mesin (ECM) saja, tapi juga memiliki beberapa modul pengontol seperti; Body Control Module (BCM), Modul ABS, Modul pengontrol untuk AC atau ECC, Immobilizer, Airbag, bahkan lebih banyak lagi tergantung dari tahun pembuatan kendaraan itu.
Jika kendaraan tidak memiliki rem ABS, tentu saja tidak akan memiliki Module ABS. Jika kendaraan tidak memiliki Electronic Climate Control tidak akan memiliki modul komputer untuk ECC dan seterusnya..dst..

ENGINE CONTROL MODULE (ECM)
Komputer utama dari kendaraan adalah Engine Control Module, atau sering juga disebut dengan Engine Control Unit, ECU adalah termasuk modul kontrol yang diprogramkan.

ECU mendapatkan input dari berbagai sensor kendaraan (sensor memberikan masukan/ informasi ke ECU), sensor tentu saja bekerja berdasarkan berbagai keadaan operasional mesin itu sendiri, lalu ECM akan memerintahkan actuator (Output) untuk melayani kebutuhan mesin tersebut.

Terdapat beberapa sensor di mesin yang berfungsi untuk memberikan input pada ECM mulai dari sensor aliran massa udara, sensor temperatur air pendingin mesin, sensor cam, sensor posisi poros engkol, sensor posisi katup gas, sensor detonasi, sensor oksigen dll.

Tiap sensor memiliki tugas/fungsi tersendiri untuk memberitahukan ECM tentang kondisi suhu air pendingin mesin, perbandingan campuran udara-bensin, suhu udara luar, posisi katup gas dll. Lalu ECM menggunakan informasi tersebut untuk mengatur volume penyemprotan bensin, mengatur putaran ide, mengatur saat pengapian dll yang pada prisipnya ECM akan melakukan pekerjaan yang dikehendaki pengemudi sesuai dengan kondisi operasional mesin.

Ingat!. ECU/ECM dan komputer pengontrol lainnya secara umum bekerja berdasarkan tegangan listrik, baik dari input maupun outputnya

DIAGNOSA
Pada waktu mesin hidup atau saat kunci kontak pada posisi On saja, maka ECU akan mengontrol setiap sensor dan aktuatornya dengan cara membandingkan kedaan tegangan sensor-sensor dengan data software yang sudah ”ditanamkan” dalam ECU. Jika terdapat kesalahan pada input maupun outputnya, maka ECU akan memberitahukan pada pengemudi dengan cara menyalakan lampu kontrol ”check engine” atau MIL (Malfunction Indicator Lamp), lalu pengemudi segera paham bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada sistem manajemen mesin dan seharusnya segera dilakukan perbaikan pada kendaraan.

Teknisi segera mendiagnosa kerusakan apakah yang sedang terjadi pada mesin itu dengan cara memasangkan sebuah scanner melalui konetor khusus hubungan scanner (scan tool) dengan ECU
Melalui komunikasi scan tool dan ECU, teknisi tahu kode kesalahan ECU apa yang telah terbaca oleh scan tool dan teknisi terlatih segara melakukan perbaikan kesalahan yang terjadi pada mesin itu.

ECU tidak dapat mendiagnosa sendiri kesalahan yang terjadi, ECU tidak akan memberikan informasi pada teknisi melalui scan tool; Apakah kesalahan itu akibat kerusakan komponen/spare part sensor atau aktuatornya, ECU juga tidak tahu apakah kerusakan itu akibat dari rangkaian kabel antara ECU dan sensor/aktuatornya, ECU juga tidak bisa mendiagnosa apakah kerusakan terjadi di dalam ECU itu sendiri. Yang hanya dapat diinformasikan oleh ECU melalu scantool adalah; TELAH TERJADI KERUSAKAN PADA SISTEM MANAJEMEN MESIN melalui DTC (kode kesalahan yang dikeluarkan ECU melalui scantool).
Jadi jelaslah bahwa jika terdapat kode kesalahan (DTC) maka tugas teknisi selanjutnya adalah mendiagnosa hal-hal sebagai berikut:

1.         Apakah kerusakan akibat dari kesalahan komponen sensor atau aktuarornya
2.         Apakah kerusakan terjadi karena rangkain kabel sensor atau aktuator.
3.         Atau kerusakan karena ECU itu sendiri.

Oleh karena itu teknisi yang terlatih akan faham bahwa untuk melakukan perbaikan kerusakan sistem manajemen mesin mereka harus memiliki beberapa keahlian sebagai berikut:

1.         Memahami fungsi dan cara kerja sensor dan aktuator
2.         Mengerti Live Data atau Freeze Frame Data yang dikeluarkan ECU melalui scantool
3.         Memahami rangkaian kabel dari sensor dan aktuator
4.         Dapat membaca dan memahami berbagai kombinasi cirkuit diagram manajemen mesin.
5.         Bisa menggunakan Automotive Digital Multimeter untuk memeriksa kerja sensor dan aktuator
6.         Sangat membantu jika teknisi dapat membaca menginterpretasikan osiloskop dari sensor dan aktuator.
7.         Kadang-kadang pada tipe kendaraan tertentu diperlukan Flash Programming/singkronisasi jika terjadi penggantian komponen atau sensor.
8.         Memahami aturan keselamatan kerja, jika bekerja pada sistem manajemen mesin.

Sering teknisi mengabaikan keselamatan kerja jika melakukan sesuatu pada sistem manajemen mesin, keselamatan kerja tersebut mencakup dalam pengertian lebih luas yaitu keselamatan pada diri sendiri atau kemanan terhadap kendaraan yang sedang diperbaiki.

Sebagai contoh; banyak kendaraan hari ini jika terminal baterainya dilepas maka ECU akan kehilangan memorinya, walhasil kendaraan tidak bisa dihidupkan kembali sebelum dilakukan ”flash programming” untuk mengembalikan memori yang hilang karena sumberdaya ECU terputus waktu terminal baterai dilepaskan tadi.
Celakanya lagi bahwa generic scantool yang dimiliki bengkel aftermarket pada umumnya tidak mampu melakukan ”flash programming” untuk ECU mesin,,,dan akhirnya terpaksa bengkel itu ”menyewa” original scantool milik bengkel lain untuk melakukan pekerjaan itu. Akibatnya tentu saja ongkos yang dibebani ke pemilik kendaraan menjadi lebih tinggi.

Adakalanya kesalahan fatal tejadi pada waktu ECU dilepas dari konektornya, dengan tanpa sengaja teknisi menyentuh terminal/pin ECU itu, hal ini bisa berakibat kerusakan pada ECU, karena tubuh manusia yang mengandung listrik statis akan tersalurkan ke ECU pada waktu teknisi menyentuk pin/terminalnya.

Banyak lagi keselamatan kerja yang harus diperhatikan oleh tenisi sebelum bekerja pada sistem manajemen mesin....Dan yang sudah pasti adalah Teknisi yang TIDAK TERLATIH cepat atau lambat akan ditinggalkan pelanggannya.

Semoga bermanfaat..
=======



Fuel Trim dan Oksigen Sensor
Oleh Junisra Syam
Excellence Automotive Training International

Banyak teknisi otomotif yang belum memahami hubungan Fuel Trim dengan Oksigen Sensor, sehingga jika terjadi kode kesalahan (DTC) pada Oksigen sensor, maka teknisi selalu berusaha cepat-cepat menggantinya sebelum menganalisa kerja oksigen sensor melalui Fuel Trim.

Indikasi ketidakpahaman ini juga saya dapatkan dari berbagai pelatihan yang saya berikan di beberapa tempat di Indonesia atau di beberapa negara lain; Jika saya tanyakan pada peserta pelatihan tentang hubungan fuel trim dengan oksigen sensor, pada umumnya mereka belum dapat menjawab dengan tepat.

Dari beberapa teknisi bengkel yang berkonsultasi pada saya; Bahwa setelah mengganti oksigen sensor, tetapi masalah yang terjadi tetap tidak terselesaikan meskipun scantool sudah menampilkan kode kesalahan yang berkaitan dengan oksigen sensor, hal ini jelas mengindikasikan bahwa perlu pemahaman kembali tentang hubungan Oksigen Sensor dengan Fuel Trim..

Untuk itulah tulisan ini saya muat kembali pada forum ini agar bisa bermanfaat bagi anggota.

Pertama kita perlu memahami bagaimana sebuah sensor oksigen bekerja. (Dalam handout pelatihan yang saya sampaikan, Anda mendapatkan gambar oksigen sensor dengan warna bagian-bagian yang kontras dan fungsional, apalagi bagi anda yang mengkopi format PDf-nya). Jadi saya tidak perlu lagi menguraikan cara kerja oksigen sensor dalam tulisan ini, tapi secara ringkas dapat dituliskan bahwa oksigen sensor akan memberikan input ke ECM/ECU berupa sinyal tegangan sesuai dengan kadar oksigen yang dikandung dalam emisi/gas buang.

INGAT
1.         Bahwa kandungan HC tinggi pada emisi/gas buang karena tidak terjadi pembakaran yang sempurna dalam silinder mesin…Maka kandungan O2 pada emisi juga TINGGI..

2.         Kerena Oksigen Sensor hanya bisa mendeteksi kandungan oksigen dalam emisi, maka pada kasus di atas, oksigen sensor melalui sinyal tegangan yang diberikan ke ECU/ECM akan menginterpretasikan bahwa perbandingan campuran kurus.. Lalu ECU/ECM akan menambah volume penyemprotan bensin..

3.         Pada kasus di atas, jelaslah bahwa penambahan volume pernyemprotan bensin oleh ECU tidak akan memperbaiki kondisi perbandingan campuran udara bensin. Tapi sudah tugasnya ECU terus menyesuaikan/menambah bensin,,, dan jika penambahan tersebut melebihi batas spek Fuel Trim (maksimum 10%) maka lampu kontrol engine (MIL) akan menyala (timbul DTC)..Ada dua kemungkinan DTC yang terjadi; pertama DTC Perbandingan Campuran (Air Fuel Ratio) dan yang kedua DTC Oksigen Sensor

Jika timbul DTC seperti di atas: Pekerjaan apakah yang harus kita lakukan? Atau bagian-bagian manakah yang perlu diperiksa?

1. Kebocoran pada Intake manifold /kebocoran vacuum; Periksa semua saluran vakum atau Intake Manifold dari kemungkinan gasket bocor, saluran vakum longgar, atau kebocoran udara lainnya yang terjadi sesudah pengukur udara (Air Mass Flow Sensor). Udara yang mengalir ke silinder mesin akibat kebocoran tersebut di atas mengakibatkan kadar oksigen pada gas buang meningkat...Lalu ECU berusaha menambah volume penyemprotan bensin..bilamana penambahan tersebut meliwati spek Fuel Trim,,,maka DTC akan timbul

2. Saluran sistem aliran bensin mengalami kerusakan, tersumbat, atau segala sesuatunya yang menghambat aliran bahan bakar ke injektor yang dapat menyebabkan perbandingan campuran benar-benar kurus karena kurangnya tekanan bensin. ECU berusaha menambah volume penyemprotan bensin..bilamana penambahan tersebut meliwati spek Fuel Trim,,,maka DTC akan timbul

3. Bisa juga terjadi kerusakan pada pressure regulator, tekanan bensin menjadi tinggi, campuran udara bensin menjadi gemuk, lalu ECU akan berusaha mengurangi volume penyemprotan bensin, tetapi jika pengurangan tersebut meliwati batas spek Fuel Trim..Akan timbul DTC

4. Ada kesalahan kinerja dari Mass Air Flow Sensor, atau MAP Sensor atau sensor lain yang berkaitan erat dengan perbandingan campuran udara bensin, tapi tidak menampilkan kode kesalahan sendiri...Namun timbul DTC Fuel Air Ratio..

5. Kerusakan mekanis mesin; Seperti tekanan kompressi lemah, kerusakan katup-katup, pengapian lemah dll. Tidak terjadi pembakaran campuran udara bensin yang sempurna pada silinder. Bila pembakaran udara bensin tidak sempurna tentu saja HC dan O2 yang keluar pada pipa knalpot meningkat. Lalu ECU berusaha menambah volume penyemprotan bensin...Dan jika penambahan tersebut meliwati batas spek Fuel Trim...Akan timbul DTC

Sekali Lagi..: O2 Sensor hanya dapat membaca kandungan oksigen di dalam knalpot, sedangkan penyebab kadar oksigen dalam emisi jadi tinggi atau rendah dapat disebabkan dari beberapa hal seperti; Perbandingan campuran yang kurus/gemuk atau tidak sesuai, bisa juga karena campuran udara bensin tidak terbakar dengan sempurna, atau terjadi kebocoran pada intake manifold, atau bahkan kebocoran knalpot sendiri, atau kerusakan pada sensor-sensor yang berkaitan erat dengan pengaturan perbandingan campuran udara bensin seperti; Airmass Flow Sensor, MAP sensor, IAT Sensor, ECT Sensor dll. Dan yang terakhir barulah kerusakan terjadi pada Oksigen Sensor itu sendiri..

Untuk membuat kepastian sebelum melakukan penggantian oksigen sensor maka sangat disarankan untuk menganalisa gas buang terlebih dahulu dengan 4 Gas Analyzer gunakan bersama-sama dengan scantool.

1.         Perhatikan kandungan Oksigen pada emisi dengan Gas Analyzer, jika kadar O2 tinggi berarti perbandingan campuran kurus, bilamana Fuel Trim yang ditunjukkan pada scantool bertambah ke arah plus melebihi speknya berarti Oksigen Sonsor....(Rusak atau OK?) silahkan jawab dalam reply...

2.         Jika kadar O2 tinggi berarti perbandingan campuran kurus, bilamana Fuel Trim yang ditunjukkan pada scantool tetap....berarti Oksigen Sonsor....(Rusak atau OK?) silahkan jawab pada reply.....

Semoga bermanfaat...Sukses selalu!

=======


Charging System adalah 
Bagian Dari Engine Management/ECU
Oleh; Junisra Syam, 
Excellence Automotive Training International.

Banyak orang menyepelekan charging system pada kendaraan, bahkan lebih banyak lagi melakukan pekerjaan tersebut dengan cara yang kurang tepat, atau kebanyakan dari kita berpikir bahwa pekerjaan ini cukup diserahkan saja pada tukang dynamo…Pasti Beres….

Pada kendaraan modern hari ini charging dan starting system tidak lagi merupakan pekerjaan sederhana seperti yang terdapat pada kendaraan konvensional sebelumnya, Karena charging dan starting system sudah termasuk perangkat Engine Management dimana kinerja kedua system ini akan dimonitor oleh ECU
Baterai berfungsi sebagai sumber daya listrik kendaraan Anda. Tapi setelah kendaraan berjalan/mesin hidup sebuah alternator yang digerakkan oleh mesin akan mengisi baterai secara terus-menerus agar tegangan listrik baterai tetap terjaga. 
Dalam operasionalnya alternator membangkitkan tegangan listrik sekitar 13,6-14,3 Volt, dan mengisi kembali baterai sehingga tegangan baterai berada dalam tegangan operesional yang benar dan selalu terisi penuh. 

Alternator merupakan perlengkapan pembangkit listrik yang paling berat kerjanya di dalam kendaraan Anda, ketika kendaraan berjalan alternator akan sangat sibuk melayani seluruh peralatan listrik atau asesoris kendaraan.

Ketika mobil tidak berjalan atau mesin tidak hidup, misalnya pada saat kendaraan diparkir dalam waktu lama, maka beberapa komponen listrik kendaraan seperti alrm, memori ECU, jam dll, masih dapat bekerja dengan adanya sumber daya listrik baterai, karena komponen tersebut dirancang bekerja pada tegangan 12V, jika tegangan lebih kecil dari 12 V, maka kompnen tidak dapat bekerja dengan sempurna.
ECU mesin juga berusaha menyesuaikan tegangan tagangan baterai terhadap keadaan operasionalnya, akan tetapi tegangan kerja ECU tidak bisa lebih kecil dari 9 Volt atau besar dari 14.8 Volt, oleh karena itu kita paham bahwa kendaraan akan sulit dihidupkan dengan cara didorong kalau tegangan baterainya kurang dari 9 Volt.

Adakalanya software ECU juga bisa mematikan mesin jika tegangan baterai lebih dari 14.8 Volt, hal itu dimaksudkan sebagai pengaman agar tidak terjadi kerusakan ECU atau komponen elektronis lainnya.
Anda bisa membayangkan jika terjadi overcharge (kelebihan tegangan) pada baterai, lalu software ECU mematikan mesin....Apa yang akan kita lakukan setelah itu? Pasti berusaha menstart mesin sampai mesin bisa hidup lagi (karena saat start tegangan baterai turun)...Jika mesin sudah hidup,,,,, beberapa waktu kemudian mesin mati lagi karena tegangan melebihi 14.8 Volt...Demikian seterusnya....

Masalah Umum Charging System 
Ketika mesin distart maka baterai kan bekerja sangat berat untuk memutarkan motor starter agar mesin dapat hidup, dalam situasi seperti ini tegangan baterai akan drop bisa sampai sampai 9V.

Kekosongan tegangan baterai seperti contoh di atas, atau akibat pemakai listrik yang lain, harus segera dapat diisi kembali oleh alternator secara terus menerus, sehingga baterai tidak ada kesempatan untuk menurun tegangan listriknya. 
Tegangan listrik baterai harus tetap terjaga sekitar 12.6 – 14.2 Volt, mesikipun semua beban listrik kendaraan dihidupkan, seperti: A/C, lampu-lampu, Radio/tape.dll.

Jika start mesin tidak dapat dilakukan dengan sempurna karena tegangan baterai tidak cukup , maka sangat dianjurkan terlebih dahulu mengisi baterai sampai penuh, lalu lakukanlah pemeriksaan sistem pengisian (charging System) secara komplit termasuk memeriksa kinerja alternator, hal ini bertujuan untuk mencegah kerusakan atau kegagalan charging system lebih parah lagi. 

Lalu lanjutan permeriksaa seperti:

1.         Sabuk penggerak alternator: Sabuk penggerak yang slip atau rusak harus diganti, kekencangan sabuk alternator harus sesuai spek agar alternator dan sabuk penggeraknya tidak slip saat alternator diputar oleh mesin. Jika sabuk penggerak alternator telalu kencang dapat mengakibatkan kerusakan bearing alternator.

2.         Periksa tegangan pengisian baterai pada kendaraan, biasanya tegangan pengisian yang bagus adalah 13.5 -14.2 Volt saat idel dan tegangan tersebut tetap bertahan meskipun meskipun beban listrik kendaraan seperti; lampu-lampu A/C, radio. Dll dihidupkan.

3.         Tegangan baterai tidak boleh melebihi 14.8V, karena kelebihan tegangan tersebut akan dapat merusak komponen lsitrik lainnya termasuk ECU.

Untuk pemeriksaan tegangan pengisian alternator digunakan voltmeter. 
Kabel merah voltmeter dijepitkan pada terminal B atau terminal output alternator, sedangkan kabel hitam voltmeter disambungkan ke massa body mesin bisa jupa pada terminal - baterai. Jika voltmeter terbaca lebih dari 14.8 volt, merupakan indikasi tegangan pengisian yang berlebihan. 

Biasanya tegangan pengisian yang berlebihan terjadi karena kerusakan voltage regulator dan saat ini kebanyakan voltage regulator berada di dalam alternator besama brush-nya. 
Perbaikan kerusakan alternator harus dengan part original, meskipun kadang-kadang dijual juga part yang lebih murah (bukan originil). Pemakaian part yang murahan ini sering menyebabkan kinerja sistem pengisian tidak optimal atau masalah/kasus yang sama terjadi kembali terus-menerus, dan pada akhirnya menimbulkan ongkos yang lebih mahal lagi..

pengapian "BUSI"

Apa Yang Harus Kita Ketahui Dari Busi?

Mungkin Anda masih ragu untuk memilih/memakai Busi yang sesuai untuk mesin kendaraan Anda, mudah-mudahan uraian singkat di bawah ini dapat membantu..

Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil pengapian, akan disalurkan melalui elektroda tengah dan elektroda massa busi berupa percikan bunga api.
Kemampuan dalam menghasilkan bunga api pada busi tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:

1. Bentuk Elektroda Busi
Permukaan elektroda busi yang sudah membulat (cembung/tidak rata) akan mempersulit loncatan bunga api, sedangkan bentuk persegi atau runcing dan tajam akan mempermudah loncatan api .
Elektroda tengah busi akan membulat/cembung setelah dipakai dalam waktu lama, oleh karena itu loncatan bunga api akan menjadi lemah dan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian, sebaliknya elektroda yang tipis atau tajam akan mempermudah percikan bunga api, akan tetapi umur penggunaannya menjadi pendek karena lebih cepat aus.

2. Celah/Gap Elektroda Busi
Bila celah/gap elektroda busi besar, bunga api akan menjadi sulit melompat dan tegangan koil pengapian yang diperlukan menjadi lebih tinggi.
Celah/gap busi yang terlalu besar juga mengakibatkan kebutuhan tegangan untuk me¬loncatkan bunga api lebih tinggi. Jika sistem pengapian tidak dapat memenuhi kebutuhan tsb, mesin mulai hidup ter¬sendat sendat pada beban penuh. Isolator isolator bagian tegangan tinggi cepat rusak karena dibebani tegangan pengapian yang luar biasa tingginya. Mesin akan sulit dihidupkan.
Elektroda busi yang aus, berarti celahnya bertambah, loncatan bunga api menjadi lebih sulit juga akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian.
Sedangkan celah/gap elektroda busi yang terlalu kecil, mengakibatkan loncatan api menjadi lemah/kecil dan Elektroda cepat kotor, khusus pada mesin 2tak.

3. Tekanan Kompressi
Bila tekanan kompresi lebih tinggi, maka bunga apipun akan menjadi semakin sulit untuk meloncat dan tegangan yang dibutuhkan semakin tinggi, hal inu juga terjadi pada saat beban berat dan kendaraan bejalan lambat dengan kecepatan rendah dan katup gas terbuka penuh, (misalnya kendaraan dalam keadaan menanjak).

Ledakan tekanan pembakaran campuran bensin-udara akibat loncatan bunga api pada busi disebut pembakaran, sedangkan pembakaran itu tidak terjadi bersamaan pada saat busi meloncatkan bunga api.
Pada waktu loncatan bunga api terjadi, maka titik bunga api mengaktifkan pembakaran molekul campuran bensin-udara dan merambat kesemua arah yang akan menimbulkan tekanan pembakaran.

Cepat perambatan api ini akan tertahan oleh suhu elektroda busi yang cukup rendah dan suhu elektroda yang rendah juga akan menyerap panas dan cenderung memadamkan rambatan api yang sebelumnya sudah mulai menyala, oleh karena itu diperlukan titik nyala api yang cukup kuat agar dapat mempertahan rambatan api pada campuran bensin-udara.
Bila titik loncatan bunga api terlalu kecil, tidak akan mampu membakar campuran bensin-udara, akibatnya terjadi kesalahan pembakaran.

Tingkat Panas Busi

Tingkat panas dari suatu busi adalah jumlah panas yang dapat salurkan/dibuang oleh busi.
Busi yang dapat menyalurkan/membuang panas lebih banyak disebut busi dingin, karena busi itu selalu dingin, sedangkan busi yang lebih sedikit menyalurkan panas disebut busi panas, karena busi itu sendiri tetap panas.

Pada busi terdapat kode abjad dan angka yang menerangkan struktur busi, karakter busi dan lain lain. Kode¬-kode tersebut berbeda beda tergantung pada pabrik pembuatnya, tetapi biasanya semakin besar nomomya menunjukkan semakin besar tingkat penyebaran panas; artinya busi makin dingin. Dan semakin kecil nomornya busi semakin panas.

Batas suhu operasional terendah dari busi disebut dengan self cleaning temperature (busi mencapai suhu membersihkan dengan sendirinya), sedangkan batas suhu tertinggi disebut dengan istilah pre ignition, dimana busi akan dapat menyalakan campuran bensin-udara dengan sendirinya tanpa meloncatkan bunga api (busi terlalu panas sehingga dapat membakar campuran dengan sendirinya).

Busi dapat bekerja dengan baik bila suhu elektroda tengahnya sekitar 450 sampai 950 derajat C
Busi yang ideal adalah busi yang mempunyai karakteristik yang dapat beradaptasi terhadap semua kondisi operasional mesin mulai dari kecepatan rendah sampai kecepatan tinggi.

Bila temperatur elektroda tengah kurang dari 450 derajat C, maka akan terbentuk karbon oleh pembakaran campuran bensin-udara yang tidak sempuma dan akan melekat pada permukaan isolasi porselin busi, sehingga menurunkan tahanan/resistance dengan rumahnya, akibatnya, tegangan tinggi yang diberikan ke elektroda tengah akan menuju ke massa tanpa meloncat dalam bentuk bunga api pada celah eleklroda, sehingga mengakibatkan tarjadinya kesalahan pembakaran.

Untuk pembakaran yang sempurna dibutuhkan temperatur 450 derajat C atau lebih.
Pada suhu tersebut karbon pada insulator akan terbakar habis. Temperatur ini disebut self cleaning temperature (suhu busi dapat bersih dengan sendirinya)

Bila suhu elektroda tengah melebihi 950 derajat C, maka elektroda busi akan menjadi sumber panas yang dapat membakar campuran bahan bakar tanpa adanya bunga api, hal ini disebut dengan istilah pre ignition, jika terjadi pre ignition, maka daya mesin akan turun, karena waktu pengapian tidak lepat, bisa mengakibatkan elektrroda busi atau bahkan piston menjadi retak, leleh sebagian atau bahkan lumer, oleh sebab itu temperatur elektroda harus dipertahankan di bawah 950 derajat C.

Busi dingin mempunyai insulator yang lebih pendek, karena permukaan penampang yang berhubungan dengan api sangat kecil sehingga rute penyebaran panasnya lebih pendek, jadi penyebaran panasnya sangat baik dan suhu elektroda tengah tidak naik terlalu tinggi, oleh sebab itu jika dipakai busi dingin pre ignition lebih sulit terjadi.

Sebaliknya karena busi panas mempunyai insulator bagian bawah yang lebih panjang, maka luas permukaan yang berhubungan dengan api lebih besar, rute penyebaran panas lebih panjang, akibatnya temperatur elektroda tengah naik cukup tinggi dan self cleaning temperature dapat dicapai lebih cepat, meskipun pada kecepatan yang rendah dibandingkan dengan busi dingin.

Pilihlah busi dan pasangkan busi yang sesuai untuk operasional kendaraan anda..Semoga bermanfaat.
Oleh Junisra Syam, Excellence Automotive Training International

PENGGUNAAN SISTEM ALARM Toyota RUSH

PENGGUNAAN SISTEM ALARM
Toyota RUSH

Sistem wireless remote control dirancang untuk mengunci atau membuka semua kunci pintu samping dan pintu belakang atau mengaktifkan alarm dalam jarak kira-kira 10 m dari kendaraan (tanpa halangan).

Ketika anda mengoperasikan switch manapun, tekan secara perlahan dan secara benar. Pada saat ini lampu indikator akan menyala saat ditekan (answerback).

Remote control adalah komponen elektronik. Perhatikan petunjuk berikut agar jangan sampai menyebabkan kerusakan pada remote control.
  • Jangan meninggalkan kunci di tempat yang temperaturnya sangat tinggi seperti di atas dashboard.
  • Jangan membongkar.
  • Hindari benturan terhadap benda lain atau terjatuh dengan keras.
  • Hindari kondisi basah atau terjatuh/tercelup ke dalam air.

Anda bisa menggunakan sampai dengan empat remote control untuk kendaraan yang sama. Hubungi dealer Toyota anda untuk memperoleh informasi yang rinci.
Jika remote control tidak bisa menggerakkan pintu-pintu atau alarm, atau tidak bisa dioperasikan dari jarak normal atau lampu indikator pada kunci redup atau tidak menyala, maka :
  • Periksa apakah berdekatan dengan pemancar seperti stasiun radio atau bandar udara yang mungkin mempengaruhi kerja remote control secara normal.
Tip: jika hal ini terjadi, dekatkan remote control pada kaca depan pengemudi, lalu tekan switch remote control selama ± 3 detik atau sampai mengunci atau membuka central lock.
  • Baterai mungkin telah kosong, periksalah baterai didalam remote control.

Jika anda kehilangan remote control anda, segera hubungi dealer Toyota untuk menghindari kemungkinan pencurian atau kecelakaan.

Penguncian dan pembukaan kunci pintu-pintu
Untuk mengunci dan membuka kunci semua pintu samping dan pintu belakang, tekanlah switch kunci secara perlahan dan benar.
Mengunci pintu-pintu dengan remote control akan mengaktifkan sistem alarm dan pembebasan kunci akan menon-aktifkan sistem alarm.


Mengunci dan mengaktifkan alarm
Tekanlah switch  dan pastikan semua pintu samping dan pintu belakang telah tertutup. Semua pintu samping dan pintu belakang akan mengunci secara serentak. Pada saat itu, akan muncul dua indikator sebagai berikut.
· Lampu tanda belok berkedip sekali.
· Klakson akan berbunyi sekali.
Periksalah untuk mengetahui bahwa semua pintu samping dan pintu belakang telah terkunci dengan aman.
Untuk mengetahui apakah ada salah satu pintu  atau kap mesin tidak tertutup dengan sempurna, perhatikan indikator sebagai berikut.
Jika pintu masih terbuka/tidak rapat:  klakson akan berbunyi sebanyak 5 kali, lampu tanda belok berkedip sekali dan LED indicator alarm berkedip 3 kali – 3 kali seterusnya.
Jika kap mesin terbuka/tidak rapat:  klakson akan berbunyi sebanyak 5 kali, lampu tanda belok berkedip sekali dan LED indicator alarm berkedip 1 kali – 1 kali seterusnya.

Jika switch  ditekan pada saat kunci berada di kunci kontak dengan posisi “Lock atau ACC, central lock akan mengunci dan alarm aktif.
Jika switch  ditekan pada saat kunci berada di kunci kontak dengan posisi “ON, maka central lock akan mengunci tetapi alarm tidak akan aktif.

Apabila alarm telah diaktifkan
Ketika system alarm mendeteksi ketidak-normalan maka akan muncul indikator-indikator sebagai berikut.
  • Saat sensor mendapat benturan sedang, alarm akan memberi peringatan suara klakson 10 kali teputus-putus dan lampu tanda belok berkedip dua kali.
  • Sensor mendapat benturan keras.*
  • Salah satu pintu atau kap mesin dibuka secara paksa.**
  • Konci kontak diputar ke posisi “ON”.
  • Terminal baterai atau rangkaian ECU dilepas lalu dihubungkan kembali.
* Alarm hanya akan menerima getaran 3 kali dalam waktu 1 jam, getaran ke 4 akan diabaikan dan normal             kembali setelah 1 jam. Hal ini untuk menghindari adanya benturan palsu secara terus menerus.

** Berbunyi selama 30 detik jika salah satu pintu dibuka kemudian ditutup kembali dan jika pintu dibuka terus maka alarm akan berbunyi selama 30 detik kali 3.

Jika baterai dalam keadaan kosong

Ketika baterai diisi ulang atau diganti baru, system akan membunyikan alarm. Untuk berhenti dari bunyi alarm tekan switch  maka alarm akan berhenti .

Mengunci dan mengaktifkan alarm tanpa suara (silent mode)
Dilakukan dalam waktu 3 detik.
Tekanlah switch  lalu tekan  maka semua pintu samping dan pintu belakang akan mengunci secara serentak. Lampu tanda belok berkedip sekali.
Keterangan: pastikan bahwa semua pintu telah tertutup dengan rapat karena hal ini tidak ada peringatan .


Membuka dan menon-aktifkan alarm
Tekanlah switch  maka semua pintu samping dan pintu belakang akan membuka secara serentak. Pada saat ini, akan timbul indikator sebagai berikut.
· Lampu tanda belok berkedip 2 kali.
· Klakson akan berbunyi 2 kali.
· LED indicator tidak menyala.*

* Jika LED indicator alarm berkedip, hal ini untuk pemberitahuan bahwa alarm pernah berbunyi dan untuk mengetahui sumber bunyi lihat tabel.

Membuka  dan menon-aktifkan alarm tanpa suara (silent mode)
Dilakukan dalam waktu 3 detik.
Tekanlah switch  lalu tekan  maka semua pintu samping dan pintu belakang membuka secara serentak. Lampu tanda belok berkedip dua kali.

Sistem aktif dan lock pintu secara otomatis (auto re-arm /re-lock)
Alarm akan aktif dan central lock akan terkunci setelah 30 detik, terhitung setelah kita menon-aktifkan alarm melalui tombol  remote control tetapi tidak ada pintu-pintu yang dibuka.

TABEL DIAGNOSTIC

JUMLAH KEDIPAN  LED
TELAH TERJADI GANGGUAN PADA
1
Telah dibuka kap mesin
2
Telah dibuka salah satu pintu.
3
Mendapat benturan lebih keras
4
Sensor tambahan ( jika dilengkapi )
5
Kunci kontak pernah di “ON”
Secara otomatis LED akan normal kembali ketika kunci kontak di putar ke posisi “ON”

Membunyikan alarm (panic mode)
Menekan switch  selama 2 detik atau lebih akan membunyikan klakson kendaraan secara terputus-putus dan menyalakan lampu tanda belok dan lampu interior untuk berkedip.
Fungsi ini digunakan untuk menghalangi pencurian kendaraan ketika anda menyaksikan ada orang yang mencoba memecahkan kaca jendela atau merusak kendaraan anda.
Alaram akan berbunyi selam 30 detik. Untuk mematikan alarm sebelum 30 detik tekanlah switch .
Panic mode tetap berfungsi apabila kunci kontak berada pada posisi  “ON”.


Menonaktifkan darurat (tanpa remote control)


 
Pada saat alarm aktif dan sirene berbunyi sedangkan remote control dalam kondisi tidak berfungsi.
Bunyi alarm bisa dihentikan dengan cara: memutar kunci kontak dari ACC ke ON –OFF sebanyak 10 kali maka bunyi sirene akan berhenti.


Mengunci dan membuka central lock secara otomatis
Setelah semua pintu tertutup dengan baik pada saat kunci kontak dari ACC diputar ke posisi ON maka secara otomatis central lock akan mengunci dalam waktu 3 detik kemudian. Central Lock akan terbuka jika kunci kontak kembali diputar ke OFF.
Perhatian : Fungsi mengunci akan dibatalkan, setelah ± 1,5 detik bila saat kunci kontak diputar ke posisi ON tetapi masih terdapat salah satu pintu yang masih belum tertutup dengan baik.

Membypass alarm

Ditandai dengan lampu LED indicator alarm menyala terus.
Berguna untuk menon-aktifkan fungsi kerja alarm dalam waktu tertentu sesuai dengan keperluan, misalnya kendaraan sedang melakukan service, cuci dan lain-lain. Tetapi untuk keyless entry, mengunci atau membuka secara otomatis dan membunyikan alarm masih tetap berfungsi.

Caranya: Buka salah satu pintu lalu tekan tombol LOCK lalu UNLOCK lalu LOCK lampu LED indicator alarm akan menyala terus. Untuk mengembalikan ke posisi Normal, lakukan langkah yang sama.PENGGUNAAN SISTEM ALARM
Toyota RUSH

Sistem wireless remote control dirancang untuk mengunci atau membuka semua kunci pintu samping dan pintu belakang atau mengaktifkan alarm dalam jarak kira-kira 10 m dari kendaraan (tanpa halangan).

Ketika anda mengoperasikan switch manapun, tekan secara perlahan dan secara benar. Pada saat ini lampu indikator akan menyala saat ditekan (answerback).

Remote control adalah komponen elektronik. Perhatikan petunjuk berikut agar jangan sampai menyebabkan kerusakan pada remote control.
  • Jangan meninggalkan kunci di tempat yang temperaturnya sangat tinggi seperti di atas dashboard.
  • Jangan membongkar.
  • Hindari benturan terhadap benda lain atau terjatuh dengan keras.
  • Hindari kondisi basah atau terjatuh/tercelup ke dalam air.

Anda bisa menggunakan sampai dengan empat remote control untuk kendaraan yang sama. Hubungi dealer Toyota anda untuk memperoleh informasi yang rinci.
Jika remote control tidak bisa menggerakkan pintu-pintu atau alarm, atau tidak bisa dioperasikan dari jarak normal atau lampu indikator pada kunci redup atau tidak menyala, maka :
  • Periksa apakah berdekatan dengan pemancar seperti stasiun radio atau bandar udara yang mungkin mempengaruhi kerja remote control secara normal.
Tip: jika hal ini terjadi, dekatkan remote control pada kaca depan pengemudi, lalu tekan switch remote control selama ± 3 detik atau sampai mengunci atau membuka central lock.
  • Baterai mungkin telah kosong, periksalah baterai didalam remote control.

Jika anda kehilangan remote control anda, segera hubungi dealer Toyota untuk menghindari kemungkinan pencurian atau kecelakaan.

Penguncian dan pembukaan kunci pintu-pintu
Untuk mengunci dan membuka kunci semua pintu samping dan pintu belakang, tekanlah switch kunci secara perlahan dan benar.
Mengunci pintu-pintu dengan remote control akan mengaktifkan sistem alarm dan pembebasan kunci akan menon-aktifkan sistem alarm.


Mengunci dan mengaktifkan alarm
Tekanlah switch  dan pastikan semua pintu samping dan pintu belakang telah tertutup. Semua pintu samping dan pintu belakang akan mengunci secara serentak. Pada saat itu, akan muncul dua indikator sebagai berikut.
· Lampu tanda belok berkedip sekali.
· Klakson akan berbunyi sekali.
Periksalah untuk mengetahui bahwa semua pintu samping dan pintu belakang telah terkunci dengan aman.
Untuk mengetahui apakah ada salah satu pintu  atau kap mesin tidak tertutup dengan sempurna, perhatikan indikator sebagai berikut.
Jika pintu masih terbuka/tidak rapat:  klakson akan berbunyi sebanyak 5 kali, lampu tanda belok berkedip sekali dan LED indicator alarm berkedip 3 kali – 3 kali seterusnya.
Jika kap mesin terbuka/tidak rapat:  klakson akan berbunyi sebanyak 5 kali, lampu tanda belok berkedip sekali dan LED indicator alarm berkedip 1 kali – 1 kali seterusnya.

Jika switch  ditekan pada saat kunci berada di kunci kontak dengan posisi “Lock atau ACC, central lock akan mengunci dan alarm aktif.
Jika switch  ditekan pada saat kunci berada di kunci kontak dengan posisi “ON, maka central lock akan mengunci tetapi alarm tidak akan aktif.

Apabila alarm telah diaktifkan
Ketika system alarm mendeteksi ketidak-normalan maka akan muncul indikator-indikator sebagai berikut.
  • Saat sensor mendapat benturan sedang, alarm akan memberi peringatan suara klakson 10 kali teputus-putus dan lampu tanda belok berkedip dua kali.
  • Sensor mendapat benturan keras.*
  • Salah satu pintu atau kap mesin dibuka secara paksa.**
  • Konci kontak diputar ke posisi “ON”.
  • Terminal baterai atau rangkaian ECU dilepas lalu dihubungkan kembali.
* Alarm hanya akan menerima getaran 3 kali dalam waktu 1 jam, getaran ke 4 akan diabaikan dan normal             kembali setelah 1 jam. Hal ini untuk menghindari adanya benturan palsu secara terus menerus.

** Berbunyi selama 30 detik jika salah satu pintu dibuka kemudian ditutup kembali dan jika pintu dibuka terus maka alarm akan berbunyi selama 30 detik kali 3.

Jika baterai dalam keadaan kosong

Ketika baterai diisi ulang atau diganti baru, system akan membunyikan alarm. Untuk berhenti dari bunyi alarm tekan switch  maka alarm akan berhenti .

Mengunci dan mengaktifkan alarm tanpa suara (silent mode)
Dilakukan dalam waktu 3 detik.
Tekanlah switch  lalu tekan  maka semua pintu samping dan pintu belakang akan mengunci secara serentak. Lampu tanda belok berkedip sekali.
Keterangan: pastikan bahwa semua pintu telah tertutup dengan rapat karena hal ini tidak ada peringatan .


Membuka dan menon-aktifkan alarm
Tekanlah switch  maka semua pintu samping dan pintu belakang akan membuka secara serentak. Pada saat ini, akan timbul indikator sebagai berikut.
· Lampu tanda belok berkedip 2 kali.
· Klakson akan berbunyi 2 kali.
· LED indicator tidak menyala.*

* Jika LED indicator alarm berkedip, hal ini untuk pemberitahuan bahwa alarm pernah berbunyi dan untuk mengetahui sumber bunyi lihat tabel.

Membuka  dan menon-aktifkan alarm tanpa suara (silent mode)
Dilakukan dalam waktu 3 detik.
Tekanlah switch  lalu tekan  maka semua pintu samping dan pintu belakang membuka secara serentak. Lampu tanda belok berkedip dua kali.

Sistem aktif dan lock pintu secara otomatis (auto re-arm /re-lock)
Alarm akan aktif dan central lock akan terkunci setelah 30 detik, terhitung setelah kita menon-aktifkan alarm melalui tombol  remote control tetapi tidak ada pintu-pintu yang dibuka.

TABEL DIAGNOSTIC

JUMLAH KEDIPAN  LED
TELAH TERJADI GANGGUAN PADA
1
Telah dibuka kap mesin
2
Telah dibuka salah satu pintu.
3
Mendapat benturan lebih keras
4
Sensor tambahan ( jika dilengkapi )
5
Kunci kontak pernah di “ON”
Secara otomatis LED akan normal kembali ketika kunci kontak di putar ke posisi “ON”

Membunyikan alarm (panic mode)
Menekan switch  selama 2 detik atau lebih akan membunyikan klakson kendaraan secara terputus-putus dan menyalakan lampu tanda belok dan lampu interior untuk berkedip.
Fungsi ini digunakan untuk menghalangi pencurian kendaraan ketika anda menyaksikan ada orang yang mencoba memecahkan kaca jendela atau merusak kendaraan anda.
Alaram akan berbunyi selam 30 detik. Untuk mematikan alarm sebelum 30 detik tekanlah switch .
Panic mode tetap berfungsi apabila kunci kontak berada pada posisi  “ON”.


Menonaktifkan darurat (tanpa remote control)


 
Pada saat alarm aktif dan sirene berbunyi sedangkan remote control dalam kondisi tidak berfungsi.
Bunyi alarm bisa dihentikan dengan cara: memutar kunci kontak dari ACC ke ON –OFF sebanyak 10 kali maka bunyi sirene akan berhenti.


Mengunci dan membuka central lock secara otomatis
Setelah semua pintu tertutup dengan baik pada saat kunci kontak dari ACC diputar ke posisi ON maka secara otomatis central lock akan mengunci dalam waktu 3 detik kemudian. Central Lock akan terbuka jika kunci kontak kembali diputar ke OFF.
Perhatian : Fungsi mengunci akan dibatalkan, setelah ± 1,5 detik bila saat kunci kontak diputar ke posisi ON tetapi masih terdapat salah satu pintu yang masih belum tertutup dengan baik.

Membypass alarm

Ditandai dengan lampu LED indicator alarm menyala terus.
Berguna untuk menon-aktifkan fungsi kerja alarm dalam waktu tertentu sesuai dengan keperluan, misalnya kendaraan sedang melakukan service, cuci dan lain-lain. Tetapi untuk keyless entry, mengunci atau membuka secara otomatis dan membunyikan alarm masih tetap berfungsi.

Caranya: Buka salah satu pintu lalu tekan tombol LOCK lalu UNLOCK lalu LOCK lampu LED indicator alarm akan menyala terus. Untuk mengembalikan ke posisi Normal, lakukan langkah yang sama.